Sedang memproses...
Sedang memproses...
Halaman ini merangkum apa yang benar-benar diketahui (dan tidak diketahui) tentang cara BPS menghitung Desil Kesejahteraan, serta bagaimana simulator ini disusun dari informasi tersebut.
Batasan paling penting
BPS tidak mempublikasikan bobot/koefisien model resmi mereka — ini standar di semua sistem proxy means test (mencegah orang menjawab strategis saat didata). Karena itu, tidak ada pihak di luar BPS yang bisa mereplikasi skor desil resmi secara presisi, termasuk simulator ini.
Simulator ini menampilkan estimasi D1-D10 sebagai hasil utama (bukan hanya skor 0-100) — ini keputusan produk untuk membuat hasil lebih relatable, TAPI penting dipahami: angka D pada simulator ini didapat dari pemetaan linear skor 0-100 ke 10 interval sama besar, bukan dari posisi Anda yang sesungguhnya di antara ~287 juta penduduk Indonesia (yang hanya bisa dihitung BPS dengan data lengkap seluruh populasi). Anggap sebagai ilustrasi edukatif, bukan angka desil sungguhan.
Sistem pemeringkatan seluruh penduduk Indonesia ke dalam 10 kelompok yang sama besar berdasarkan tingkat kesejahteraan — desil 1 adalah 10% penduduk dengan kesejahteraan terendah, desil 10 adalah 10% tertinggi. Ini menjadi dasar penyusunan DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional), yang dipakai pemerintah untuk menyasar program bantuan sosial seperti PKH dan BPNT.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan (13 November 2025): “Desil adalah pengelompokan masyarakat Indonesia menjadi sepuluh kelompok yang sama besar.” Desil bukan pengeluaran per kapita itu sendiri — ini menunjukkan posisi relatif rumah tangga dalam distribusi, bukan angka rupiah.
BPS memakai metode statistik bernama Proxy Means Test — mengestimasi tingkat kesejahteraan dari variabel-variabel yang mudah diobservasi (kondisi rumah, aset, dll), BUKAN dari pengukuran langsung pengeluaran setiap rumah tangga. Ini masuk akal secara operasional: mengukur pengeluaran riil ~287 juta jiwa lewat wawancara mendalam untuk setiap orang tidak feasible, jadi dipakai proxy dari sensus lengkap (Regsosek 2022) yang dikalibrasi terhadap data pengeluaran riil dari survei sampel (Susenas).
Model ranking DTSEN memakai 39 variabel — subset dari ~90 variabel yang dikumpulkan Regsosek — dari 5 kategori yang disebut Kepala BPS (Nov 2025): kondisi perumahan, kepemilikan aset, pengeluaran rumah tangga, akses pendidikan, dan akses layanan dasar.
Sumber lain yang lebih baru — BPS Kabupaten Pati (5 Maret 2026) — menyebut cakupan indikator pemutakhiran DTSEN lebih luas: identitas kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi dan kualitas tempat tinggal, akses sanitasi dan air minum, kesehatan dan disabilitas, kepemilikan aset, hingga kepemilikan usaha — 8 kelompok, bukan 5. Kami tidak tahu pasti apakah ini daftar kategori yang berbeda dari model ranking 39-variabel, atau cakupan data Regsosek secara umum yang lebih luas dari variabel yang benar-benar dipakai dalam skor. Simulator ini tetap memakai pengelompokan 5 kategori (lebih spesifik disebut untuk model ranking), tapi beberapa indikator kesehatan/disabilitas dan kepemilikan usaha yang disebut sumber kedua ini sudah kami masukkan ke dalam kategori Layanan Dasar dan Aset.
Karena daftar rinci 39 variabel DTSEN tidak dipublikasikan, kami menyusun 39 indikator sendiri — mengacu ke indikator PMT yang memang pernah dipublikasikan resmi di era Basis Data Terpadu (BDT/PBDT, TNP2K 2015), tradisi metodologi yang sama dilanjutkan Regsosek/DTSEN — lalu dikelompokkan ke 5 kategori yang dikonfirmasi dipakai BPS. Ini bukan daftar variabel asli DTSEN 2025, hanya rekonstruksi yang masuk akal secara metodologis.
Bobot antar kategori tidak dibuat sama rata — kategori Ketenagakerjaan & Pengeluaran dibobot paling besar, mengikuti logika umum PMT bahwa kapasitas ekonomi/pengeluaran adalah sinyal terkuat terhadap kesejahteraan:
| Ketenagakerjaan & Pengeluaran | 30% |
| Kondisi Perumahan | 20% |
| Akses Layanan Dasar | 20% |
| Kepemilikan Aset | 20% |
| Akses Pendidikan | 10% |
Di dalam kategori Ketenagakerjaan & Pengeluaran, kami juga meminta input langsung pengeluaran rumah tangga per bulan (dibagi jumlah anggota keluarga untuk dapat pengeluaran per kapita) — komponen ini diberi 60% dari skor kategori tersebut, sisanya 40% dari rata-rata 8 indikator kategorikal lain. Skala skor pengeluaran per kapita dianchor ke Garis Kemiskinan Nasional resmi BPS terbaru: Rp 669.235/kapita/bulan (rilis Maret 2026, diumumkan 5 Agustus 2026) — tepat di angka itu diberi skor rendah (20/100), naik landai seiring pengeluaran per kapita naik. Titik-titik skala di luar Garis Kemiskinan adalah pilihan kami sendiri, bukan cutoff resmi apa pun.
Angka pengeluaran yang Anda masukkan hanya diproses di perangkat Anda (client-side) untuk menghitung skor — tidak dikirim atau disimpan ke server mana pun.
Riset lengkap (termasuk hal-hal yang belum sempat ditelusuri lebih jauh) tersedia di dokumen Riset-Metodologi-Desil-Kesejahteraan-BPS.md pada folder proyek.